teruntuk Abang yang di sana
Halo Bang, gimana kabarmu di sana?
apakah aku pernah menjadi objek yang berlari-lari di otak dan hatimu Bang? ah, pertanyaan yang naif dan memalukan sekali ya Bang. Kenal saja baru sebentar dan itu hanya di dunia virtual. kalo boleh jujur ya bang, abang sempat membuatku terpana. sungguh teramat terpana bang. sampai-sampai aku berkali-kali memimpikanmu. sampai-sampai aku tak bisa fokus dengan segala aktivitasku. kau sungguh jahat bang, teganya mengalihkan duniaku. maaf telah egois, mungkin aku yang bersalah karena telah memberimu tempat sempit yang istimewa di ruang hatiku.
namun, akhirnya aku sadar bahwa perasaanku yang telah sesak ini harus kupaksa berhenti. sungguh sulit untuk menghentikannya jika abang tahu. pernah aku berfikir untuk menghabiskan waktuku kelak dengan abang. namun, sepertinya tak mungkin karena frekuensi dan sinyal kita sangat berbeda. sinyalmu tak pernah ke arahku dan frekuensimu beribu ribu Hertz di atasku. Aku tak mampu menyamai frekuensimu bang. jadi kuputuskan menghentikan khayalan tingkat tinggiku.
abang, tahukah kau bahwa aku selalu senang jika melihatmu tersenyum dan bahagia. aku selalu senang menjadi pendengarmu bang. itu sudah lebih dari cukup untukku. tapi, satu hal yang tak bisa membuatmu senang karena aku tak bisa membantumu tentang satu urusan itu bang. bukannya aku tak ingin abang dengannya, tapi abang berhak mendapatkan yang lebih dari itu. jangan silau dengan yang nampak bang, lihatlah lebih dalam. bukankah hati yang indah itu cerminan keindahan? semoga abang tak silau lagi.
dan pada akhirnya, aku akan tetap menunggu cerita-cerita darimu bang dan akan selalu menjadi pendengarmu kapanpun kau inginkan hal itu. oh iya Bang, aku tak ingin menyapamu terlebih dahulu. karena mungkin aku aku akan menjadi pengganggumu saja. setiap kedatanganmu akan kusambut dengan hati lapang bang. selalu ada ruang untukmu. maaf jika ruang itu hanya sempit. tapi ruang itu selalu istimewa. dan untuk yang terakhir kali, aku minta maaf karena telah lancang berharap agar sinyal dan frekuensi kita sama. sekali lagi maafkan aku ya bang.
dengan tulus,
adik tanpa nama
Tidak ada komentar:
Posting Komentar