Translate

Rabu, 12 Maret 2014

A


            ‘A!’.
            ‘Hadir Pak!’.Jawabku dengan suara lantang.
            ‘Apa benar namamu Cuma A saja?’.Tanya Pak guru dengan muka sedikit heran. Aku tidak kaget lagi mendengar pertanyaan itu. Mungkin Pak guru adalah orang ke-100 yang bertanya perihal namaku.
            ‘Iya Pak, itu nama pemberian orang tua saya’. Jawabku seperti biasa saat orang bertanya tentang namaku. ‘Nama panggilanmu siapa?’. ‘A thok pak! Hahahaha…’. (Thok: saja dalam Bahasa Jawa). Celetuk seorang teman kelas disambut tawa riuh teman lainnya. Aku tidak marah dengan celetukan tersebut karena sudah terbiasa.
Suatu hari aku bertanya pada Ibu.
 ‘Bu. Kenapa aku dulu hanya diberi nama A saja?
‘Bapak dan Ibumu pengen dalam hidupmu menjadi orang yang pertama dan selalu dibutuhkan seperti huruf A’. begitu kata Ibuku sambil lalu.
‘tapi bu, kenapa hanya A saja bukan Ahmad, Andi atau yang lainnya yang lebih keren?’, tanyaku lagi belum puas dengan jawaban ibu.
Sudahlah, yang penting kan maknanya baik dan kamu sampai saat ini selalu nomor satu di kelas. Berarti doa orang tua tidak salah dalam member nama anaknya’, ibu mulai berceramah.
Bapakku bernama Zainudin sedang Ibuku bernama Zainab. Menurut hipotesisku mereka berdua memberiku nama A karena tidak ingin anaknya memiliki nama yang mengandung huruf Z. Karena huruf Z terletak di akhir, dalam daftar presensi Z juga selalu terakhir. Atau bisa juga dulu mereka memiliki pengalaman pahit dengan huruf Z. Mungkin nama A banyak mengandung hikmah suatu hari nanti.  
            Hmmm.. terkadang aku iri dengan teman-temanku yang namanya terdiri dari banyak huruf. Tapi aku selalu menghargai nama pemberian orang tuaku. Memang benar doa orang tuaku terkabul dengan memberiku nama A. dari Sekolah Dasar sampai saat ini aku selalu juara 1 di kelas dan dalam perlombaan apapun. Tentunya dengan usahajuga.
            Ujian Nasional SMA telah tiba. Aku sibuk dengan soal setiap hari selama ujian berlangsung. Aku tidak mengalami kesulitan yang berarti selama ujian. Sekarang tinggal menunggu hasilnya. Setelah sebulan menunggu, hasil ujian sudah diumumkan. Dan aku bersyukur karena aku menjadi juara 1 tingkat provinsi dengan nilai terbaik.
            Aku diterima di Universitas terbaik di negaraku. Dan aku mulai dengan kehidupan baru di kampus. Lambat laun aku mengenal apa yang disebut dengan cinta. Seorang mahasiswi yang satu kelas denganku telah membuat hatiku berbunga saat melihatnya. Parasnya indah, baik tingkah dan polahnya mebuat lelaki manapun terpesona. Semakin hari aku memikirkannya, hatiku ingin lebih dari sekedar teman dengannya. Sungguh, perasaan macam apa ini.
            Setelah menyiapkan hati dan mental, aku mengajak wanita pujaanku makan siang di kantin kampus. ‘Athok tumben nih ngajak aku makan, ada acara apa ni?’, tanyanya dengan wajah ceria. ‘Sekali-kali boleh kan makan bareng sama kamu’,  jawabku dengan menyembunyikan perasaan galau hatiku. Selesai makan aku mengutarakan perasaanku,  ’Mmmm,, Ki,, sebenarnya aku mau bilang sesuatu sama kamu’, kataku memulai aksi. ‘Yaudah, tinggal bilang aja A’.
            ‘Sebenarnya, dari awal aku melihatmu ada sebuah perasaan yang mengusik hati. Semakin hari aku makin ingin lebih dekat denganmu. Ki apa aku boleh mengisi hatiku dengan hatimu?’, kata-kata itu akhirnya keluar dari mulutku. Dia terlihat bingung dan bimbang. ‘Eh..nggak harus dijawab sekarang kok’, kataku. ‘Mmmm.. maaf banget ya A, bukannya aku nggak mau. Kamu orang yang pintar dan selalu nomor satu. Tapi aku nggak bisa jadian sama kamu karena namamu hanya A’, jawabnya serba salah. Dunia serasa kabur dalam pandanganku. Aku yang selalu nomor satu dalam hal apapun kali ini gagal dalam hal cinta. Oh, sungguh malang nasib seorang A. Pupus cintanya karena hanya memiliki nama A saja. Kisah A yang berakhir karena cinta.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar