kring...
Kriing... kriing..
“Assalamuaaikum,dengan
Astri di sini”.
“Wa’alaikumussalam,
ini Bapak Nak. Gimana kabarmu?”. Sepertinya ada sesuatu yang ingin beliau
sampaikan. “Alhamdulilah baik Pak. Kabar keluarga di rumah gimana Pak?”. “Bapak
dan adik-adikmu sehat, tapi keadaan ibumu kurang baik. Sakitnya kambuh sejak
tiga hari yang lalu”. Astaghfirullah, aku miris mendengarnya. Ingin sekali
kupeluk ia dan mengurusnya. “Halo.. Nak?”. Aku tersadar bapak masih di
seberang menunggu tanggapanku, “iya Pak, apa perlu Astri izin pulang?”. “Nak,
melihat keadaan ibumu yang masih saja belum ada perkembangan Bapak minta kamu
untuk segera mengurus kepindahan sekolahmu. Teruskan sekolahmu di Ponorogo saja
sekalian menemani ibumu”.
Deg. Mengapa
tiba-tiba bapak memintaku pindah sekolah? Apa keadaan ibu semakin parah?
“mengapa
tiba-tiba Pak? Kan tanggung pak, Astri tinggal setahun lagi lulus.” Protesku,
hatiku bimbang dan galau. “Bapak minta maaf nak, tapi ibumu ingin melewati
hari-harinya denganmu. Ini ibumu ingin bicara”. Sunyi sejenak,
“assalamu’alaikum Astri, gimana sekolahmu?”. Mataku tak dapat menahan titik
yang jatuh perlahan ini. “wa’alaikumussalam Bu, Alhamdulilah lancar. Keadaan
Ibu gimana?”. Makin deras tetesan dari mataku mendengar suara lemah ibu. “Ibu
masih sehat dan bisa tersenyum, uhuk..uhuk, Nak.. ibu pengen kamu temani ibu di
rumah,uhuk..uhuk..”.”iya bu, Astri usahakan secepatnya mengurus perpindahan
sekolah, ibu istirahat ya.. jangan banyak gerak dan kecapekan. Jangan lupa juga
obatnya diminum, Astri mau bicara sama bapak bisa Bu”, mendengar batuk ibu aku
tak tega untuk jauh dari beliau.
“Pak.. Astri
segera mengurus perpindahan sekolah”.
“maafkan Bapak
ya Nak, Insya Allah sekolah di sini lebih barokah karena memenuhi keinginan
ibu”, ada rasa sesal di suara bapak.
“iya Pak, Astri akan menemani ibu dan mengurus
adik-adik”.
“Bapak tunggu
kabarmu secepatnya, sudah dulu ya.. ibumu batuk terus. Semoga Allah Memberi
kelancaran dalam urusanmu. Assalamualaikum”.
“waalaikumussalam
warahmatullah wabarokatuh”
Aku masih
tergugu di pojok kamar. Ingin segera pulang dan memeluk ibu.
Keesokan
harinya aku mendatangi wali kelas untuk mengurus perpindahanku. Dalam waktu dua
hari urusan pindah sekolah selesai. Dan segera aku kabarkan pada bapak.
“Assalamualaikum, Pak. Alhamdulilah, urusan Astri sudah selesai. Jadi bisa segera
pulang.”
“waalaikumussalam.
Alhamdulilah, biar besok pamanmu menjemput. Bapak juga sudah mnyelesaikan
urusan sekolahmu yang baru di sini.”
Setelah membereskan barang-barangku aku
berpamitan dengan teman-teman kelas dan guru-guruku. Mereka kaget atas kepindahanku
yang tiba-tiba. Tak lama kemudian pamanku tiba, aku memasukkan semua barang ke
bagasi dibantu paman. Ada rasa sedih di hatiku, meninggalkan teman-teman,
sekolah dan kota ini. Tapi, mengingat keadaan ibu tekadku untuk pulang menjadi
kuat.
Empat jam
dalam perjalanan membuat badanku pegal. Akhirnya aku sampai di depan rumahku.
Terlihat adik-adikku menyambut di depan rumah. Mereka membantu mebawakan
barang-barangku. “Mbak, dari kemarin ibu nanya terus kapan mbak pulangnya.
Sudah ditunggu ibu di kamar”. Segera kudatangi ibu yang terbaring di kamar.
“assalamualaikum
Bu, gimana keadaan Ibu?”
“waalaikumussalam,
uhuk.. uhuk.. akhirnya kamu sampai rumah Nak, ibu kangen sama kamu. Uhuk uhuk..”
“Astri juga
kangen sama Ibu. Minum dulu Bu, biar batuknya reda. Ibu jangan mikir yang berat
dulu ya, banyak istirahat. Biar Astri yang ngurus adik-adik dan rumah”
“Uhuk..Uhuk,
iya Nak. Makasih kamu sudah penuhi permintaan Ibu”
“Astri senang
bisa temani Ibu di sini. Ibu istirahat ya, Astri beres-beres dulu ya”
Aku keluar
dari kamar ibu, tak ingin mengganggu istirahatnya. Sakit ibu disebabkan karena
operasi pengangkatan kanker di rahimnya sejak tiga tahun lalu. Efek dari
operasi tidak membuat kesehatan ibu membaik tapi sebaliknya. Segala jenis
pengobatan telah ditempuh tapi belum memberikan hasil yang baik. Ibu semakin
ringkih dari hari ke hari. Tapi semangatnya untuk sembuh membuatnya kuat
menghadapi penyakitnya.
Bapak terlihat
tenang ketika aku di rumah. Sedikit bebannya berkurang, mungkin selain untuk
menemani ibu di rumah bapak juga mempertimbangkan biaya sekolahku yang mahal
belum lagi biaya pengobatan ibu yang tidak sedikit. Aku paham akan hal itu
walaupun bapak tidak mengutarakannya secara langsung padaku. Tubuh bapak juga
semakin kurus dan tak terurus. Bapak sebenarnya juga memiliki penyakit jantung
dan hipertensi yang diketahui sejak dua tahun yang lalu. Aku tak ingin
memberatkan beliau dan membuatnya semakin terpuruk.
Sudah tiga
bulan sejak kepindahanku di rumah. Melewati detik demi detik hariku untuk sekolah,
mengurus ibu dan mengambil alih pekerjaannya. Keadaan ibu belum menunjukkan
perubahan yang berarti. Semakin hari keadannya memburuk, hingga akhirnya harus
dirawat di rumah sakit. Hingga di suatu malam ibu berbicara padaku, “Nak,
sebagai anak pertama ibu titip ayah dan adik-adikmu. Maafkan Ibu yang tak bisa
berbuat apa-apa dan merepotkan ini”
“Ibu jangan ngomong gitu, Astri sayang sama Ibu. Kami semua sayang sama Ibu, ingin Ibu segera sembuh”, tangisku tak bisa berhenti. Semua keluarga berkumpul di kamar ibu. Ayah hanya diam tak bisa berkata-kata. “Asyhadu An Laa Ilaaha Illallah, Wa Asyhadu Anna Muhammadan Rasulullah”, Terdengar kata-kata terakhir beliau sebelum menghembuskan nafas terakhir mengahadap Sang Khaliq. Innaa Lillaahi Wa Innaa Ilaihi Raaji’uun. Kami sudah merelakan ibu menghadap-Nya. Walaupun begitu tak kuasa aku, bapak dan adik-adikku menahan air mata yang terus mengalir. Keluarga segera mengurus pemakaman ibu. Aku memandikan jasad ibu. Teringat dulu aku selalu dimandikan oleh ibu, kini untuk terakhir kalinya aku ingin memandikannya. Wajahnya terlihat damai dan tersenyum. Semoga ibu khusnul khotimah.
“Ibu jangan ngomong gitu, Astri sayang sama Ibu. Kami semua sayang sama Ibu, ingin Ibu segera sembuh”, tangisku tak bisa berhenti. Semua keluarga berkumpul di kamar ibu. Ayah hanya diam tak bisa berkata-kata. “Asyhadu An Laa Ilaaha Illallah, Wa Asyhadu Anna Muhammadan Rasulullah”, Terdengar kata-kata terakhir beliau sebelum menghembuskan nafas terakhir mengahadap Sang Khaliq. Innaa Lillaahi Wa Innaa Ilaihi Raaji’uun. Kami sudah merelakan ibu menghadap-Nya. Walaupun begitu tak kuasa aku, bapak dan adik-adikku menahan air mata yang terus mengalir. Keluarga segera mengurus pemakaman ibu. Aku memandikan jasad ibu. Teringat dulu aku selalu dimandikan oleh ibu, kini untuk terakhir kalinya aku ingin memandikannya. Wajahnya terlihat damai dan tersenyum. Semoga ibu khusnul khotimah.
Hari demi hari
kami lalui dan membiasakan diri tanpa kehadiran sosok ibu di rumah kami. Aku
yang sekarang menggantikan tugasnya mengurus adik-adik, memasak, menyiapkan
makanan dan pekerjaan rumah lainnya. Tahun terakhirku di sekolah juga semakin
dipadati dengan persiapan ujian. Bapak terlihat semakin kurus dan
sakit-sakitan. Beliau sering izin masuk kantor karena harus check up ke dokter.
Adik-adikku mulai mandiri dan tak lagi merengek minta perhatian.
Allah menguji
hamba-Nya yang sabar dan bertaqwa. Hari itu datang ujian Allah kepadaku. Aku
menemukan bapak lemas dan terkulai di lantai, segera ku panggil paman dan
membawa bapak ke rumah sakit. Dokter memberi diagnosa bahwa bapak mengalami
komplikasi. Ginjal kirinya tak berfungsi dengan baik. Bapak tak ingin di rawat
inap, bujukanku tak beliau hiraukan. Akhirnya aku mengalah dan mengurusnya di
rumah. Bapak hanya bisa berbaring di ranjang. Sesekali ia jalan ke kamar mandi
dan duduk di teras.
Sudah sebulan
bapak sakit, keadaannya belum membaik. Beliau hanya bisa berbaring di tempat
tidur. Walaupun bapak sakit beliau tetap shalat dengan berbaring serta tak
henti melafadzkan dzikir. Beliau selalu berpesan kepadaku dan adik-adik untuk
selalu ingat Allah dalam keadaan apapun. Keadaan bapak semakin buruk, kubawa
bapak ke rumah sakit bersama paman. Beliau langsung di tempatkan di ruangan ICU
infus, alat bantu pernafasan serta alat yang tak kumengerti terpasang di tubuh
bapak yang lemah. Aku dan paman bergantian menjaga bapak. Hingga suatu pagi di
Bulan Ramadhan bapak menghembuskan nafas terakhirnya tepat satu tahun saat ibu
tiada. Sebelum meninggal bapak berwasiat kepadaku untuk menjaga diri dan
adik-adikku.
Aku hampir
putus asa saat bapak meninggal. belum selesai aku mengenang ibu, bapak pun ikut
dipanggil Sang Khaliq. Tapi aku sadar bahwa Allah tak pernah membebani hambaNya
melainkan sesuai dengan kesanggupannya (Q.S al-Baqarah:286). Sedikit demi
sedikit aku bangkit dari keterpurukanku. Semua yang di dunia ini Milik Allah
dan kepadaNya kembali. Ini merupakan pengalaman berharga yang diberi Allah padaku.
Di setiap sepertiga malamku selalu berdoa untuk orang
tuaku dan kuminta pada Allah untuk memberi kekuatan menghadapi segala
cobaanNya. Hidupku harus tetap berjalan, kini aku yang membimbing adik-adikku.
Kejadian-kejadian dalam hidup ini adalah sebuah puzzle yang harus dijalani agar
terbentuk secara sempurna.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar